Tidak semua penemu lahir dari laboratorium.
Sebagian justru lahir dari keterpurukan, tirakat, dan langkah kaki yang tak pernah berhenti.
Namanya Mbah Moedjair.
Nama aslinya Iwan Muluk, lahir tahun 1890 di Kuningan, Blitar, Jawa Timur. Ia bukan bangsawan, bukan ilmuwan lulusan luar negeri, bahkan bukan pejabat kolonial. Ia hanya rakyat biasa—pemilik warung sate yang pernah berjaya, lalu jatuh karena kebiasaan berjudi.
Saat hidupnya runtuh, usahanya bangkrut, dan masa depan terasa buntu, Mbah Moedjair memilih satu hal yang hari ini mungkin terdengar asing: tirakat.
Setiap tanggal 1 Suro, ia berjalan kaki bersama Kepala Desa Papungan, Pak Muraji, menuju Pantai Serang. Bukan perjalanan singkat. Pulang-pergi dari desa ke pantai itu memakan waktu dua hari jalan kaki menembus hutan, sejauh 35 kilometer.
Dan di sanalah takdirnya berubah.
🔳 Ikan Aneh dari Pantai, Harapan dari Laut
Di Pantai Serang, Mbah Moedjair melihat sesuatu yang tak biasa: sekelompok ikan yang menyimpan anak-anaknya di dalam mulut saat terancam. Secara naluri, ia tahu ikan ini berbeda. Bukan ikan biasa.
Dengan rasa penasaran yang besar, ia membawa beberapa ekor pulang ke rumah.
Masalahnya satu:
ikan laut tidak hidup di air tawar.
Ikan-ikan itu mati satu per satu. Tapi Mbah Moedjair tidak berhenti. Ia mulai melakukan sesuatu yang pada zamannya tergolong nekat—eksperimen mandiri tanpa buku, tanpa alat, tanpa gelar.
Ia mencampur air laut dan air tawar, mengubah komposisi sedikit demi sedikit. Setiap gagal, ia kembali berjalan kaki ke Pantai Serang. Lagi. Dan lagi.
Menurut cerita anaknya, percobaan ke-11 akhirnya berhasil.
Empat ekor ikan bertahan hidup.
Itu bukan sekadar keberhasilan budidaya.
Itu adalah lahirnya ikan mujair air tawar di Indonesia.
🔳 Nama yang Menyebar Lebih Cepat dari Sepeda Kumbang
Keberhasilan itu cepat menyebar. Dari satu kolam jadi tiga. Ikan-ikan hasil budidayanya dibagikan ke tetangga. Sisanya dijual ke pasar, diangkut dengan sepeda kumbang keliling Blitar.
Orang-orang menyukainya. Dagingnya gurih, mudah dibudidayakan, dan cepat berkembang biak. Tanpa sadar, Mbah Moedjair sedang mengubah pola konsumsi protein rakyat kecil.
Kabar itu sampai ke telinga Asisten Residen Belanda di Kediri, seorang pejabat kolonial yang juga peneliti. Ia datang, meneliti, mewawancarai Mbah Moedjair, dan mencocokkan temuan itu dengan literatur ilmiah.
Hasilnya mengejutkan:
ikan tersebut berasal dari perairan Afrika, keluarga tilapia—ikan yang kelak menjadi salah satu ikan konsumsi paling penting di dunia.
Sebagai penghargaan, spesies ini diberi nama sesuai penemunya:
Moedjair, yang kemudian dilafalkan menjadi mujair.
🔳 Warisan yang Lebih Besar dari Sebuah Nama
Dari Blitar, mujair menyebar ke seluruh Indonesia.
Dari kolam desa, ia masuk ke dapur rakyat.
Dari tangan seorang mantan penjudi, ia jadi penopang ketahanan pangan nasional.
Mbah Moedjair menerima berbagai penghargaan, termasuk dari Indo-Pacific Fisheries Council (1954) dan Pemerintah Indonesia pada 17 Agustus 1951. Tapi hidupnya tetap sederhana.
Ia wafat pada 7 September 1957 karena asma.
Di nisan makamnya tertulis sederhana, tanpa gelar, tanpa pujian berlebihan:
> “MOEDJAIR
PENEMU IKAN MOEDJAIR”
Lengkap dengan ukiran ikan.
Hari ini, mujair dan kerabatnya (termasuk nila) menjadi salah satu ikan paling banyak dibudidayakan di dunia. Tapi nama Mbah Moedjair jarang disebut. Padahal kisahnya adalah bukti bahwa ilmu tak selalu lahir dari kampus—kadang lahir dari tekad, kegigihan, dan keberanian mencoba lagi setelah gagal.









