Dulu Menjadi Tangan Kanan, Inilah Alasan Mengapa Harmoko Akhirnya ‘Meninggalkan’ Pak Harto di Tahun 1998

Jumat, 13 Februari 2026 - 17:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Bapak Harmoko

Foto Bapak Harmoko

Siapa yang tidak kenal Harmoko? Bagi generasi 80-an dan 90-an, wajahnya adalah “menu wajib” di layar TVRI setiap malam. Dengan kalimat ikonik “Menurut petunjuk Bapak Presiden…”, ia adalah orang kepercayaan, penyambung lidah, sekaligus benteng citra bagi Soeharto selama belasan tahun.

Namun, sejarah mencatat sebuah kejutan besar. Pada Mei 1998, Harmoko yang dikenal sebagai “tangan kanan” paling setia, justru menjadi orang yang mengetuk palu “perpisahan” bagi kekuasaan Sang Jenderal Besar.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa si setia ini akhirnya memilih untuk berbalik arah?

1. Desakan Reformasi yang Tak Terbendung
Mei 1998 adalah titik nadir bagi Orde Baru. Gelombang demonstrasi mahasiswa sudah mengepung gedung DPR/MPR. Sebagai Ketua DPR/MPR saat itu, Harmoko berada di posisi yang sangat sulit. Ia melihat langsung ribuan mahasiswa menduduki atap gedung wakil rakyat. Desakan agar Soeharto mundur bukan lagi sekadar bisikan, melainkan teriakan di depan matanya.

2. Isu “Sakit Hati” Pribadi
Di balik alasan politik, terselip isu personal yang santer dibicarakan para pengamat sejarah. Kabarnya, hubungan Harmoko dan Soeharto mulai retak saat penyusunan kabinet terakhir. Harmoko disebut-sebut merasa “dipinggirkan” karena tidak dipilih menjadi Wakil Presiden, posisi yang akhirnya jatuh ke tangan B.J. Habibie. Selain itu, pencopotannya dari kursi Menteri Penerangan juga dianggap sebagai tanda bahwa ia mulai kehilangan tempat di hati sang penguasa.

3. Rumah di Solo yang Hangus Terbakar
Faktor emosional juga diduga kuat memengaruhi keputusannya. Saat kerusuhan pecah, rumah pribadi Harmoko di Solo dibakar oleh massa. Kejadian ini disinyalir menjadi titik balik di mana ia merasa bahwa membela kekuasaan yang sudah goyah hanya akan membahayakan dirinya dan keluarganya lebih jauh.

4. Menjadi “Brutus” di Konferensi Pers yang Melegenda
Pada 18 Mei 1998, dalam sebuah konferensi pers yang membuat seluruh Indonesia menahan napas, Harmoko mengeluarkan pernyataan mengejutkan: Ia meminta Soeharto mundur demi keutuhan bangsa.

Langkah ini dianggap sebagai pengkhianatan terbesar dalam sejarah Orde Baru. Soeharto sendiri, kabarnya, merasa sangat terpukul dan menganggap tindakan Harmoko sebagai tikaman dari belakang. Inilah yang membuat Tadjus Sobirin, tokoh Golkar saat itu, menjulukinya sebagai “Brutus”—merujuk pada tokoh Romawi yang mengkhianati Julius Caesar.

Akhir Sebuah Era
Hubungan keduanya tidak pernah benar-benar pulih. Bahkan hingga Soeharto terbaring sakit di tahun 2008, Harmoko dikabarkan ditolak saat ingin menjenguk.

Harmoko berpulang pada Juli 2021, membawa serta rahasia dan dinamika hubungan yang luar biasa dengan Soeharto ke liang lahat. Ia tetap akan diingat sebagai sosok yang paling setia, sekaligus orang yang memberikan dorongan terakhir bagi jatuhnya sebuah rezim besar.

Bagaimana menurut Anda? Apakah langkah Harmoko saat itu murni demi menyelamatkan bangsa, atau memang ada unsur politik pribadi? Tulis pendapat kalian di kolom komentar! (Wikipedia)

Ini adalah draf artikel yang disusun dengan gaya bahasa populer, sedikit dramatis namun tetap berbasis fakta sejarah, sangat cocok untuk audiens Facebook yang menyukai topik sejarah dan politik.

Dulu Jadi Tangan Kanan Paling Setia, Inilah Alasan Mengapa Harmoko Akhirnya ‘Meninggalkan’ Pak Harto di Tahun 1998
Siapa yang tidak kenal Harmoko? Bagi generasi 80-an dan 90-an, wajahnya adalah “menu wajib” di layar TVRI setiap malam. Dengan kalimat ikonik “Menurut petunjuk Bapak Presiden…”, ia adalah orang kepercayaan, penyambung lidah, sekaligus benteng citra bagi Soeharto selama belasan tahun.

Namun, sejarah mencatat sebuah kejutan besar. Pada Mei 1998, Harmoko yang dikenal sebagai “tangan kanan” paling setia, justru menjadi orang yang mengetuk palu “perpisahan” bagi kekuasaan Sang Jenderal Besar.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa si setia ini akhirnya memilih untuk berbalik arah?

1. Desakan Reformasi yang Tak Terbendung
Mei 1998 adalah titik nadir bagi Orde Baru. Gelombang demonstrasi mahasiswa sudah mengepung gedung DPR/MPR. Sebagai Ketua DPR/MPR saat itu, Harmoko berada di posisi yang sangat sulit. Ia melihat langsung ribuan mahasiswa menduduki atap gedung wakil rakyat. Desakan agar Soeharto mundur bukan lagi sekadar bisikan, melainkan teriakan di depan matanya.

2. Isu “Sakit Hati” Pribadi
Di balik alasan politik, terselip isu personal yang santer dibicarakan para pengamat sejarah. Kabarnya, hubungan Harmoko dan Soeharto mulai retak saat penyusunan kabinet terakhir. Harmoko disebut-sebut merasa “dipinggirkan” karena tidak dipilih menjadi Wakil Presiden, posisi yang akhirnya jatuh ke tangan B.J. Habibie. Selain itu, pencopotannya dari kursi Menteri Penerangan juga dianggap sebagai tanda bahwa ia mulai kehilangan tempat di hati sang penguasa.

3. Rumah di Solo yang Hangus Terbakar
Faktor emosional juga diduga kuat memengaruhi keputusannya. Saat kerusuhan pecah, rumah pribadi Harmoko di Solo dibakar oleh massa. Kejadian ini disinyalir menjadi titik balik di mana ia merasa bahwa membela kekuasaan yang sudah goyah hanya akan membahayakan dirinya dan keluarganya lebih jauh.

4. Menjadi “Brutus” di Konferensi Pers yang Melegenda
Pada 18 Mei 1998, dalam sebuah konferensi pers yang membuat seluruh Indonesia menahan napas, Harmoko mengeluarkan pernyataan mengejutkan: Ia meminta Soeharto mundur demi keutuhan bangsa.

Langkah ini dianggap sebagai pengkhianatan terbesar dalam sejarah Orde Baru. Soeharto sendiri, kabarnya, merasa sangat terpukul dan menganggap tindakan Harmoko sebagai tikaman dari belakang. Inilah yang membuat Tadjus Sobirin, tokoh Golkar saat itu, menjulukinya sebagai “Brutus”—merujuk pada tokoh Romawi yang mengkhianati Julius Caesar.

Akhir Sebuah Era
Hubungan keduanya tidak pernah benar-benar pulih. Bahkan hingga Soeharto terbaring sakit di tahun 2008, Harmoko dikabarkan ditolak saat ingin menjenguk.

Harmoko berpulang pada Juli 2021, membawa serta rahasia dan dinamika hubungan yang luar biasa dengan Soeharto ke liang lahat. Ia tetap akan diingat sebagai sosok yang paling setia, sekaligus orang yang memberikan dorongan terakhir bagi jatuhnya sebuah rezim besar.

Bagaimana menurut Anda? Apakah langkah Harmoko saat itu murni demi menyelamatkan bangsa, atau memang ada unsur politik pribadi? Tulis pendapat kalian di kolom komentar!

Ini adalah draf artikel yang disusun dengan gaya bahasa populer, sedikit dramatis namun tetap berbasis fakta sejarah, sangat cocok untuk audiens Facebook yang menyukai topik sejarah dan politik.

Dulu Jadi Tangan Kanan Paling Setia, Inilah Alasan Mengapa Harmoko Akhirnya ‘Meninggalkan’ Pak Harto di Tahun 1998
Siapa yang tidak kenal Harmoko? Bagi generasi 80-an dan 90-an, wajahnya adalah “menu wajib” di layar TVRI setiap malam. Dengan kalimat ikonik “Menurut petunjuk Bapak Presiden…”, ia adalah orang kepercayaan, penyambung lidah, sekaligus benteng citra bagi Soeharto selama belasan tahun.

Namun, sejarah mencatat sebuah kejutan besar. Pada Mei 1998, Harmoko yang dikenal sebagai “tangan kanan” paling setia, justru menjadi orang yang mengetuk palu “perpisahan” bagi kekuasaan Sang Jenderal Besar.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa si setia ini akhirnya memilih untuk berbalik arah?

1. Desakan Reformasi yang Tak Terbendung
Mei 1998 adalah titik nadir bagi Orde Baru. Gelombang demonstrasi mahasiswa sudah mengepung gedung DPR/MPR. Sebagai Ketua DPR/MPR saat itu, Harmoko berada di posisi yang sangat sulit. Ia melihat langsung ribuan mahasiswa menduduki atap gedung wakil rakyat. Desakan agar Soeharto mundur bukan lagi sekadar bisikan, melainkan teriakan di depan matanya.

2. Isu “Sakit Hati” Pribadi
Di balik alasan politik, terselip isu personal yang santer dibicarakan para pengamat sejarah. Kabarnya, hubungan Harmoko dan Soeharto mulai retak saat penyusunan kabinet terakhir. Harmoko disebut-sebut merasa “dipinggirkan” karena tidak dipilih menjadi Wakil Presiden, posisi yang akhirnya jatuh ke tangan B.J. Habibie. Selain itu, pencopotannya dari kursi Menteri Penerangan juga dianggap sebagai tanda bahwa ia mulai kehilangan tempat di hati sang penguasa.

3. Rumah di Solo yang Hangus Terbakar
Faktor emosional juga diduga kuat memengaruhi keputusannya. Saat kerusuhan pecah, rumah pribadi Harmoko di Solo dibakar oleh massa. Kejadian ini disinyalir menjadi titik balik di mana ia merasa bahwa membela kekuasaan yang sudah goyah hanya akan membahayakan dirinya dan keluarganya lebih jauh.

4. Menjadi “Brutus” di Konferensi Pers yang Melegenda
Pada 18 Mei 1998, dalam sebuah konferensi pers yang membuat seluruh Indonesia menahan napas, Harmoko mengeluarkan pernyataan mengejutkan: Ia meminta Soeharto mundur demi keutuhan bangsa.

Langkah ini dianggap sebagai pengkhianatan terbesar dalam sejarah Orde Baru. Soeharto sendiri, kabarnya, merasa sangat terpukul dan menganggap tindakan Harmoko sebagai tikaman dari belakang. Inilah yang membuat Tadjus Sobirin, tokoh Golkar saat itu, menjulukinya sebagai “Brutus”—merujuk pada tokoh Romawi yang mengkhianati Julius Caesar.

Akhir Sebuah Era
Hubungan keduanya tidak pernah benar-benar pulih. Bahkan hingga Soeharto terbaring sakit di tahun 2008, Harmoko dikabarkan ditolak saat ingin menjenguk.

Harmoko berpulang pada Juli 2021, membawa serta rahasia dan dinamika hubungan yang luar biasa dengan Soeharto ke liang lahat. Ia tetap akan diingat sebagai sosok yang paling setia, sekaligus orang yang memberikan dorongan terakhir bagi jatuhnya sebuah rezim besar.

Bagaimana menurut Anda? Apakah langkah Harmoko saat itu murni demi menyelamatkan bangsa, atau memang ada unsur politik pribadi? Tulis pendapat kalian di kolom komentar!

Baca Juga :  Dari Warung Sate ke Peta Dunia: Kisah Mbah Moedjair, Lelaki yang Mengubah Nasib Lewat Seekor Ikan

(Dicopy dari akun FB)

Berita Terkait

Menaikkan Target Pendapatan Retribusi Sampah di Kabupaten Tangerang itu Salah Kaprah Justru Harusnya Dihapuskan
Mau Menikah Tahun 2026, Inilah Persyaratan Administrasi yang harus Disiapkan
Dari Warung Sate ke Peta Dunia: Kisah Mbah Moedjair, Lelaki yang Mengubah Nasib Lewat Seekor Ikan
Inilah Langkah Tindakan yang harus dilakukan bila terkena Banjir di Rumah
Puluhan Tahun Sejumlah Titik jadi Langganan Banjir LSBSN Tuntut Pemkab Tangerang Segera Review RTRW dan Perizinannya
Syech Asnawi Caringin Ulama Besar Banten, Mursyid Tarekat Qodariyah wa Naqsyabandiyyah, dan Pejuang Islam Kemanusiaan
Kawal Transparansi Anggaran, DPC GMNI Kab. Tangerang Gelar Diskusi APBD Bersama Eks Sekjen FITRA dan Eks Koordinator ICW
Sinergi dan Kolaborasi Jelang Deklarasi Pengurus DPD TMI Kabupaten Tangerang 27 Juli 2025.
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Februari 2026 - 17:12 WIB

Dulu Menjadi Tangan Kanan, Inilah Alasan Mengapa Harmoko Akhirnya ‘Meninggalkan’ Pak Harto di Tahun 1998

Selasa, 10 Februari 2026 - 10:23 WIB

Menaikkan Target Pendapatan Retribusi Sampah di Kabupaten Tangerang itu Salah Kaprah Justru Harusnya Dihapuskan

Jumat, 6 Februari 2026 - 16:06 WIB

Mau Menikah Tahun 2026, Inilah Persyaratan Administrasi yang harus Disiapkan

Minggu, 25 Januari 2026 - 09:56 WIB

Dari Warung Sate ke Peta Dunia: Kisah Mbah Moedjair, Lelaki yang Mengubah Nasib Lewat Seekor Ikan

Sabtu, 24 Januari 2026 - 15:01 WIB

Inilah Langkah Tindakan yang harus dilakukan bila terkena Banjir di Rumah

Berita Terbaru