KABUPATEN TANGERANG — Penyebab utama terjadinya banjir diwilayah Kabupaten Tangerang selain intensitas hujan tinggi adalah terjadinya penyempitan dan pendangkalan aliran sungai yang melintasinya, dan itu akibat alih fungsinya bantaran garis sempadan sungai (GSS) menjadi permukiman dan industri padahal jelas dalam aturan ada jarak yang ditetapkan.
Diketahui, dalam Aturan GSS di Indonesia diatur dalam Permen PUPR No. 28/2015, menetapkan zona larangan bangunan di sepanjang tepi sungai untuk melindungi fungsi sungai, mencegah banjir, dan menjaga ekosistem. Jarak sempadan umumnya berkisar 10-100 meter untuk sungai tidak bertanggul dan 3-5 meter untuk sungai bertanggul, tergantung pada lokasi (dalam/luar kota) dan ukuran sungai.
Misalnya banjir yang melanda cukup dahsyat di wilayah Kecamatan Tigaraksa di 7 desa itu berdasarkan pemantauan akibat meluapnya air pada aliran sungai Cidurian dan Cimanceuri karena penyempitan dan pendangkalan sehingga banjir melanda nyaris 3 bulan sekali dan tak kunjung teratasi atau minimal berkurang dampaknya yang ada malah makin parah.
Menurut Mohammad Ekoriadi salah satu aktifis pemerhati lingkungan di Kabupaten Tangerang, penyebab banjir makin sering terjadi karena bantaran sungai terdapat adanya bangunan permukiman dan industri sehingga air tidak lancar mengalir ketika turun hujan sehari saja air meluap terjadilah banjir.
“Sosok ketegasan gubernur KDM (Kang Dedi Mulyadi) itu diperlukan untuk melakukan normalisasi fungsi sungai Cidurian dan Cimanceuri, gubernur turun kelokasi jangan hanya ketika terjadi banjir naik perahu karet tapi juga ketika surut lihat apa penyebabnya dan segera lakukan penanganan solusi konkritnya,” ujar Mohammad Ekoriadi, Kamis (9/4/2026).
Tanggul Kali di Perumahan Mustika Tigaraksa Jebol akan diperbaiki APBD Perubahan 2026
Pasca banjir di Wilayah Kecamatan Tigaraksa 4 hari sejak Senin, Selasa, Rabu Kamis (5 – 7 April 2026) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang, Provinsi Banten, segera memperbaiki tanggul kali yang jebol akibat luapan banjir di Perum Mustika Tigaraksa, Kelurahan Pasir Nangka, Kecamatan Tigaraksa.
“Insya Allah nanti pada anggaran perubahan ini akan dibangun (perbaikan tanggul). Mudah-mudahan itu juga akan menjadi solusi penanganan banjir di Prumahan Mustika,” kata Camat Tigaraksa Cucu Abdul Rrosied di Tangerang, Rabu.
Perbaikan tanggul kali yang jebol, kata dia, menjadi langkah prioritas utama dalam pemulihan pascabanjir di wilayah tersebut.
Menurut dia, untuk pelaksanaan perbaikan akan dilakukan dengan bantuan Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui penyaluran anggaran perubahan tahun 2026.
Jebolnya tanggul kali ini, lanjut dia, telah mengakibatkan sedikitnya 70 kepala keluarga (KK) di RT/RW 05/09, Perum Mustika Tigaraksa terdampak sejak Minggu (5/4).
Ia menyebutkan secara umum banjir yang melanda tujuh desa/kelurahan yakni Desa Margasari, Kelurahan Kadu Agung, Desa Matagara, Desa Pasir Nangka, Desa Pasir Bolang, Desa Cisereh, dan Desa Pematang. Tujuh desa ini terdampak akibat luapan sungai yang mengelilingi kawasan desa tersebut.
Di tujuh desa/kelurahan setidaknya ada 512 kepala keluarga (KK) dengan total 1.675 jiwa.
“Luapan Sungai Cimanceuri, Cipayaeun, dan anak Sungai Ciranjeuen mengakibatkan tujuh desa di delapan titik terdampak, ” ujarnya.
BPBD Kabupaten Tangerang mencatat sedikitnya 3.186 Jiwa terdampak Banjir
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang Achmad Taufik menyampaikan bahwa berdasarkan asesmen data kebencanaan yang terhimpun pada 4-7 April 2026 total ada 3.186 jiwa terdampak bencana alam tersebut.
“Ada empat kecamatan yang terdampak oleh bencana banjir pada 4-7 April, yakni Legok, Pagedangan, Tigaraksa, dan Jambe,” katanya.
(Red)









