KABUPATEN TANGERANG — Imbauan dari organisasi Gabungan Pengusaha dan Pedagang Daging (Gappenda) Banten agar mengadakan aksi mogok jualan selama dua hari mulai Senin hingga Selasa 26-27 Januari 2026 diabaikan para pedagang Daging di Pasar Gudang Tigaraksa, buktinya hari ini Selasa tetap berdagang seperti biasa.
Diabaikannya imbauan tersebut karena para pedagang menganggap surat dari Gappeda itu khusus untuk para pedagang diwilayah Banten (Serang, Cilegon, Pandeglang, Lebak) dan sebelumnya juga mereka nyatakan telah mengikuti imbauan mogok buka lapak usaha mengikuti imbauan DPD Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) kepada para pedagang se-Jabodetabek agar 22 – 25 Januari 2026 tidak berdagang.
“Imbauan hari ini mogok itu untuk para pedagang diwilayah Banten dan kami para pedagang Jabodetabek dan sebelumnya sudah ikuti mogok Minggu lalu,” ujar salah satu pedagang daging pasar gudang saat dikonfirmasi TS pada Selasa (27/01/2026).
Aksi mogok jualan para pedagang daging dipicu adanya kenaikan harga dari distributor kepada para pedagang eceran disemua wilayah se-Indonesia sehingga sejumlah organisasi pedagang tersebut menolak dan mengajak agar mogok buka lapak usaha agar Kementrian Perdagangan RI dapat kembali menurunkan harga daging.
Sementara itu Acep Jayadiwira, Humas PT sebagai pengelola pasar Gudang Tigaraksa mengatakan bahwa untuk pedagang daging sapi saat ini aktif berdagang dan harga relatif sama yaitu kisaran Rp 125.000 – 130.000 perkilogramnya.
“Alhamdulillah bang, pedagang daging sapi hari ini dan kemarin tetap berdagang, meskipun ada surat imbauan dari paguyubannya,” terang Acep, Selasa 17 Januari 2026.
Selain itu kata Acep, untuk harga daging sapi pun saat ini terbilang masih stabil. Karena para pedagang menjualnya dengan harga Rp125 hingga Rp130 per kilogramnya.
“Untuk harga daging sapi, alhamdulillah hari ini relatif stabil bang, karena diharga Rp125 hingga Rp130 per kilogramnya.” katanya.
Dikatakan Acep, para pedagang daging sapi enggan menaikan harga daging dikarenakan jika dinaikan takutnya daya beli masyarakat menurun.
“Mereka para pedagang daging sapi enggan menaikan harga karena daya beli masyarakat ditakutkan menurun,” pungkas Acep.
(Red)









