KABUPATEN TANGERANG — Berdasarkan data Sakernas Tahun 2024, tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Tangerang tercatat sebesar 6,06% atau setara dengan 102.510 orang. Angka ini menunjukkan masih terjadi ketimpangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja.
Kondisi ini diperparah dengan 9.766 pekerja di wilayah Kabupaten Tangerang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepanjang tahun 2025. Angka tersebut meroket tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
”PHK pada tahun 2024 itu sebanyak 5.058 pekerja, tahun 2025 naik 93,08 persen,” kata Kepala Bidang Hubungan Industrial (HI) Disnaker Kabupaten Tangerang Hendra, Rabu (7/1/2026).
Hendra menyebut, secara umum faktor utama beberapa perusahaan di wilayahnya melakukan PHK karena biaya produksi yang semakin tinggi di Kabupaten Tangerang. Naiknya biaya produksi tersebut tidak sebanding dengan pesanan dari klien yang malah terus menurun akibat persaingan global dan peralihan teknologi.
”Sebanyak 7.007 pekerja terkena PHK karena efisiensi, 919 pekerja karena indisipliner, 864 pekerja karena perusahaannya tutup, 420 pekerja resign dan 311 pekerja di-PHK karena restrukturisasi,” ungkapnya.
Hendra juga menjelaskan, naik turunnya angka PHK dari tahun ke tahun sangat dipengaruhi oleh kebijakan perusahaan-perusahaan padat karya. Pasalnya, mayoritas perusahaan-perusahaan tersebut yang merajai industri di Kabupaten Tangerang.
“Kebanyakan PHK terjadi di industri alas kaki, tekstil, dan garmen,” ungkapnya.
Tingginya angka PHK di sektor tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah, mengingat industri padat karya selama ini menjadi salah satu penopang utama penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Tangerang. Salah satu solusi jangka panjang yakni mengadakan pelatihan kewirausahaan kepada masyarakat usia produktif.
”Salah satu solusi yang kami dorong adalah melalui program perluasan kesempatan kerja berbasis kewirausahaan,” ujar Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja, Iis kurniati.
Diketahui Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten merilis tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Banten per Agustus 2025. Dari delapan kabupaten/kota, ini daerah dengan TPT tertinggi di Banten.
Diungkapkan Ketua Tim Statistik Sosial BPS Provinsi Banten Adam Sofian mengungkapkan, daerah dengan tingkat pengangguran terbuka tertinggi yakni Kabupaten Pandeglang 8,80 persen. Kemudian, Kabupaten Serang 8,73 persen.
“Kota Cilegon 7,41 persen,” ujar Adam saat membacakan rilis, Rabu, 5 November 2025.
Kemudian, lanjut Adam, tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Lebak 7,30 persen, Kota Serang 6,95 persen, dan Kabupaten Tangerang 5,94 persen. Berikutnya, Kota Tangerang 5,88 persen.
“Sedangkan yang terakhir Kota Tangerang Selatan 4,13 persen,” ungkapnya.
Sedangkan untuk tingkat pengangguran terbuka di Banten, BPS merilis di angka 6,69 persen, Angka itu naik dibandingkan Agustus 2024 sebesar 6,68 persen.
(Kutif)









