Mengenal Buya Amin Koper, Ulama Besar Kresek Tangerang dan Poros Keilmuan Ulama Banten

Minggu, 25 Januari 2026 - 08:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Abuya Amin Koper

Abuya Amin Koper

Syaikh Muhammad Amin bin Abdullah, yang lebih dikenal dengan sebutan Buya Amin Koper, adalah salah satu ulama kharismatik Banten yang memiliki pengaruh besar dalam dunia keilmuan Islam, pesantren, dan perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Tangerang dan sekitarnya.

Beliau lahir pada tahun 1899 M di Kampung Sepang, Desa Koper, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten. Buya Amin merupakan putra dari Ki Abdullah dan Nyai Kati. Dari jalur nasab, silsilahnya tersambung hingga kepada Syaikh Ciliwulung Cakung dan Pangeran Sunyararas Tanara, tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam Nusantara.

Pendidikan dan Rihlah Keilmuan:
Pendidikan agama Buya Amin dimulai langsung dari ayahandanya sendiri. Setelah itu, ia melanjutkan pengembaraan keilmuan kepada sejumlah ulama besar Banten dan Betawi. Di antaranya adalah Syaikh Muhammad Ramli Kresek, murid sekaligus sepupu dari Syaikh Nawawi al-Bantani Tanara. Hubungan keilmuan ini kemudian berlanjut menjadi hubungan keluarga ketika Buya Amin dinikahkan dengan putri Syaikh Ramli. Dari pernikahan ini lahir KH. Ma’ruf Amin, yang kelak menjadi Rais ‘Aam PBNU dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Restorasi foto Buya Amin Koper

Selain itu, Buya Amin juga menimba ilmu kepada Syaikh Misbah Koper, Syaikh Sabi’un Ranca Sumur, serta Syaikh Husen Jakarta. Kehausannya terhadap ilmu mendorongnya untuk mondok di sejumlah pesantren besar, seperti Pesantren Kadulisung Pandeglang, Pesantren Pasir Bedil Rangkasbitung, serta Pesantren Pelamunan di bawah asuhan Syaikh Tohir al-Falamuni al-Bantani, di mana beliau kembali diangkat sebagai menantu oleh gurunya.

Puncak rihlah ilmiahnya terjadi pada periode 1930–1936, ketika Buya Amin menuntut ilmu di Makkah al-Mukarramah.

Mendirikan Pesantren dan Mengabdi untuk Umat:
Sepulang dari Tanah Suci, Buya Amin menikah dengan Nyai Hj. Nurjannah asal Serang. Ia kemudian mendirikan pondok pesantren di Koper, Kresek, Tangerang, yang menjadi pusat pengkaderan ulama dan rujukan keilmuan Islam di wilayah Banten Utara.

Di mata para santri, Buya Amin dikenal sebagai sosok ikhlas, tawadhu, lembut, dan penuh kasih sayang. Kecintaannya kepada santri sering kali melebihi rasa sayang kepada anak-anaknya sendiri. Tak jarang, beliau memasak sendiri untuk para santri, bahkan dikenal sangat memuliakan tamu yang datang ke rumahnya.

Abuya Bustomi Cisantri Pandeglang pernah menuturkan:

“Jiwa kerasku luluh ketika bertemu dengan Buya Amin. Seorang alim dengan ilmu yang sangat tinggi, namun tidak pernah menampakkan diri sebagai orang yang ingin dimuliakan. Aku belajar banyak dari kelembutan jiwa ulama Kresek ini.”

Para santri juga memiliki kisah tersendiri tentang kewibawaan Buya Amin. Meski tampak tertidur saat santri membaca kitab, beliau akan langsung membetulkan ketika ada kesalahan bacaan, seakan tak pernah terlepas dari pengawasan ilmiah.

Melahirkan Banyak Ulama Besar
Buya Amin Koper dikenal sebagai poros kelahiran ulama-ulama Banten dan sekitarnya. Di antara murid-murid beliau yang kemudian menjadi pengasuh pesantren dan tokoh umat antara lain:

1. KH. Syarbini Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Kresek,
2. KH. Nurzen Pengasuh Pesantren Al-Hikmah Pendawa Binuang,
3. KH. Mahmud Pengasuh Pesantren Manba’ul Hikmah Renged Kresek
4. KH. Qalyubi Pengasuh Pesantren Manba’ul Hikmah Renged Kresek,
5. KH. Nawawi Pengasuh Pesantren Tarbiyatul Mubtadiin Pasir Nangka Tigaraksa,
6. Syekh Mufti Asnawi Pengasuh Pesantren Darul Hikmah Srewu Cakung Binuang,
7. KH. Humaid Endol Tanara Pengasuh Majlis Ta’lim syekh Nawawi Tanara,
8. KH. Ahmad Romli Pengasuh Pesantren Dangdeur Balaraja,
9. KH. Kalyubi Mauk,
10. KH. Munir Cikarang Bekasi,
11. KH. Hasbullah Binuang,
12. KH. Syatibi Ampel,
13. KH. Sayuti Bolang,
14. KH. Nasihun Daon,
15. KH. As’ad Bendung,
16. KH. Syarif Kubang,
17. KH. Rafiuddin Saga,
18. KH. Sukama Cikande,
19. KH. Sukri Koper,
20. KH. Marjani Cijeruk dan lain-lain.

Pengajian Selasa Masjid Agung Arruhaniyah:
Bersama H. Abdul Gani bin Muhammad, Buya Amin menjadi pencetus Pengajian Selasa di Masjid Agung Arruhaniyah Kresek, sebuah majelis keilmuan yang telah berlangsung sejak sebelum kemerdekaan hingga kini. Pengajian ini diikuti para ulama dan kiai dari berbagai daerah dan menjadi barometer hukum Islam di wilayah Kresek, Kronjo, Gunung Kaler, Binuang, Tanara, dan sekitarnya.

Saat Buya Amin masih hidup, muqri tunggal dalam pengajian tersebut hanyalah beliau sendiri. Para ulama lain merasa segan membaca kitab di hadapannya. Fatwa-fatwanya menjadi rujukan sentral, mencerminkan keluasan keilmuannya sebagai faqih yang sufi, mufassir yang muhaddis, serta ahli nahwu dan ushul fiqh, termasuk dalam ilmu balaghah dan faraidh.

Sepeninggal beliau, pengajian dilanjutkan oleh Syaikh Mufti bin Asnawi, lalu diteruskan oleh KH. Hamzah Gunung Kaler bersama para kiai lainnya.

Perjuangan dalam Nahdlatul Ulama:
Buya Amin aktif di NU sejak masa bergabungnya NU dengan Masyumi pada 1943 di bawah kepemimpinan Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Setelah NU keluar dari Masyumi pada 1952 dan mengikuti Pemilu 1955, berkat perjuangan Buya Amin dan ulama lainnya, Partai NU meraih kemenangan mutlak di Tangerang.

Pada tahun 1975, Buya Amin menjabat sebagai Penasihat PPP Kabupaten Tangerang. Ia termasuk dalam “Trio Pager NU Banten”, bersama KH. Abdul Kabir Kubang Petir dan KH. Muhammad Syanwani Tirtayasa.

Sejak keputusan Muktamar NU Situbondo 1984 untuk kembali ke Khittah 1926, Buya Amin mengurangi aktivitas politik dan lebih memfokuskan diri pada pembinaan umat dalam bidang ibadah dan akhlak.

Wafatnya Sang Ulama:
Syaikh Muhammad Amin bin Abdullah Koper wafat pada 12 Rabiul Awal 1415 H, meninggalkan warisan keilmuan, keteladanan, dan jaringan ulama yang terus hidup hingga hari ini.

Restorasi Pewarnaan foto
Oleh:Kang Ajat Ajat

Sumber:
Diolah dari berbagai sumber bacaan, termasuk:
Kompasiana – “Syaikh Muhammad Amin bin Abdullah Koper Kresek Tangerang Banten”

Baca Juga :  Pemprov Banten Gelontorkan 140 Milyar untuk Sukseskan Program Sekolah Gratis Jenjang SMA, SMK, SKh, dan MA

Berita Terkait

Hari Raya Idul Fitri Warga NU dan Muhammadiyah Tahun Ini Berpotensi Bareng
Info aja, Shalat Tarawih di Masjidil Haram Arab Saudi 10 Rakaat plus 3 Witir
Abuya Bustomi Cisantri, Ulama Banten terkenal dengan keberanian dan berbagai karomahnya.
Abuya Syech Ahmad Suhari, Ulama Tarekat Berpengaruh dari Cibeber Cilegon
Jadwal Mulai Puasa dan Lebaran Muhamadiyah Berbeda dengan Pemerintah beda Sehari
Jelang Tahun Baru 2026 Pengajian Rutin Ulama Umaro Kecamatan Tigaraksa Digelar di Desa Sodong
Jelang MTQ Kabupaten Tangerang 8 – 13 Januari 2026 Panlok Kecamatan Pagedangan telah Dibentuk dan Dikukuhkan
Warga Desa Pasir Bolang Tigaraksa Sukses Menggelar Lomba ‘Mamaca’ Manaqiban Syech Abdul Qodir Jaelani
Berita ini 89 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 15:52 WIB

Hari Raya Idul Fitri Warga NU dan Muhammadiyah Tahun Ini Berpotensi Bareng

Jumat, 20 Februari 2026 - 14:50 WIB

Info aja, Shalat Tarawih di Masjidil Haram Arab Saudi 10 Rakaat plus 3 Witir

Senin, 26 Januari 2026 - 22:40 WIB

Abuya Bustomi Cisantri, Ulama Banten terkenal dengan keberanian dan berbagai karomahnya.

Senin, 26 Januari 2026 - 08:44 WIB

Abuya Syech Ahmad Suhari, Ulama Tarekat Berpengaruh dari Cibeber Cilegon

Minggu, 25 Januari 2026 - 08:52 WIB

Mengenal Buya Amin Koper, Ulama Besar Kresek Tangerang dan Poros Keilmuan Ulama Banten

Berita Terbaru